Reader yang bijak akan selalu meninggalkan jejaknya. :D Karena itu, silakan post komen atau klik "reaction" di tiap entry yang ada. :D Trims semua.... GOD BLESS YOU!!!

Kamis, 10 Juli 2014

Lavender 04


4
Katyusha?

Sore. Aku segera pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar Salma karena ada yang ingin kutanyakan padanya. Langsung saja tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu kamarnya.
“Hoi... ada yang mau kutanya, nih....”
Seperti biasa, Salma tidur tengkurap sambil membaca komik. Kebiasaan yang tidak berubah dari sejak kecil. “Apa-apaan, sih.... Paling nggak ketok pintu dulu sebelum masuk! Kalo misalnya aku lagi ganti baju....”
Aku menghela napas panjang. “Yah... toh aku udah hapal ‘barang’-mu kayak gimana.... Aku juga udah hapal semua rahasia di badanmu. Kita dulu pernah beberapa kali mandi bareng, kan....”
Salma menatap tajam ke arahku. Wajahnya memerah hingga ke telinganya. Sepertinya aku salah bicara, deh....
“Jadi, mau nanya apa?”
“Tentang bando biru.”
Salma tersentak kaget. “Kamu bilang bando biru?”
Aku mengangguk.
“Aku nggak ingat pastinya, sih.... Mungkin Mbak Rizka tau.”
“Apapun, deh.... Yang penting yang kamu inget aja....”
“Bando biru.... Dulu kamu pernah nanya tentang bagus nggaknya bando biru. Kamu bilang mau ngasih ke seseorang, kan....”
“Orang itu... siapa?”
“Hm... lupa, tuh.... Udah lama banget, kan.... Maaf... ingatanku tentang masa itu nggak terlalu bagus. Coba tanya Mbak Rizka, deh.... Mungkin dia tau sesuatu.”
Aku menghela napas panjang. Yah... wajar kalau Salma lupa. Saat itu dia berumur 8 tahun, kan....
Aku keluar dari kamar Salma. Kali ini tujuanku adalah Mbak Rizka. Untungnya dia berada di ruang keluarga. Sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu. Yah... ganggu sebentar, deh....
“Mbak, aku mau nanya sesuatu. Ini berkaitan ama masa waktu aku kecil dulu.”
“Apaan?”
“Apa yang Mbak Rizka tau tentang bando biru? Terus... tentang Rachel, kakak tingkatku.... Apa korelasinya?”
Mbak Rizka terkejut. Aku tahu dia terkejut walau dia segera menutup ekspresi kagetnya itu dengan senyuman. “Eh... tentang itu, ya....”
Benar, kan.... Pasti ada sesuatu! Pasti! Apa maksudnya “tentang itu” tadi? Pasti Mbak Rizka tahu sesuatu tentang masa laluku yang aku lupakan. Waktu itu dia sudah SMA, kan.... Ingatannya pasti lebih bagus daripada aku dan Salma.
“Mbak Rizka tau sesuatu, kan?”
Mbak Rizka menggeleng kepala. “Hm... nggak, tuh.... Aku nggak tau. Kenapa kamu tanya tentang itu ke aku?”
Dia bohong.
“Yah... kalo yang bando, sih.... Kalo nggak salah dulu ada bando yang kamu suka. Padahal kamu nggak mungkin pake bando, kan.... Rambutmu pendek gitu.... Lagian kamu cowok, kan....”
Bando yang aku suka?
“Waktu itu kamu cuma bilang, ‘bando di toko yang deket toko kerajinan di Pasar Tengah itu bagus banget!’. Gitu, kan? Kamu lupa?”
Aku pernah menyukai suatu bando? Seperti tidak masuk akal.... Kalau dikaitkan dengan Rachel....
“Oh, kamu juga sering ngomong sesuatu yang aneh. Aku nggak ngerti maksudnya. Tapi, aku selalu ingat, lho....”
“Aku bilang apa?”
“Oke, inget baik-baik, ya.... MACAN RAJJEI +5 dan -7.”
Apaan, tuh? MACAN RAJJEI? Lalu, apa maksudnya +5 dan -7? Apa itu? Kode?
“Kamu dulu suka main-main detektif. Terus kamu buat kode aneh itu. Kupikir... kalo kamu berhasil inget arti kode itu, kamu pasti bakal inget sesuatu yang luar biasa.”
Aku tidak mengerti.... Sama sekali tidak mengerti....

Pagi. SELAMAT PAGI!!! Hari yang bagus, nih.... Sayangnya aku harus menikmati pagi ini di ruang kelas. Seperti biasa aku selalu duduk di tempat yang paling dekat dengan jendela. Alasannya cukup sederhana, supaya aku bisa mengintai pergerakan cewek-cewek di luar kelas.
Seperti biasa juga, Salma duduk di sebelahku. Dia sering mengajakku mengobrol berbagai macam hal. Bagiku, kadang dia mengganggu. Aku ingin hunting cewek.... Kalau dia terus mengajakku ngobrol, kapan aku bisa hunting? Yah... mungkin setelah jam kuliah ini berakhir, aku bisa segera memisahkan diri darinya.

Siang. Cerah. Kuliah selesai. Dengan penuh trik, aku berhasil memisahkan diri dari Salman dan Salma. Nanti di rumah entah apa yang akan mereka katakan, ya.... Biarlah.
Aku segera ke perpustakaan. Kemarin aku bertemu Rachel di perpustakaan ini. Kali ini juga aku berharap bisa bertemu Rachel di sini. Mungkin dengan bertemu dengannya aku bisa mengingat sesuatu tentang masa laluku.
Di dalam perpustakaan aku mencari-cari Rachel. Tapi, yang kutemukan hanyalah Shinta. Dia sedang membaca novel di pojok ruangan.
“Kak Shinta, ketemu lagi, nih....”
Shinta meletakkan novelnya di atas novel sambil tersenyum menatapku. “Halo.... Andry mau belajar?”
Aku duduk di sebelah Shinta. “Nggak.... Saya memang nyari Kak Shinta, kok.... Yah... mau ngobrol-ngobrol aja.... Saya pikir Kak Shinta pasti ada di sini.”
“Teehehe.... Sebenernya nggak juga, sih.... Kebetulan aja saya baca novel di sini. Sambil nunggu Rachel, sih....”
“Oh, kebetulan banget! Wah... kayaknya kita memang berjodoh, nih....”
“Teehehehe.... Masa, sih?”
Sebenarnya bukan tujuan utamaku bertemu Shinta. Tapi, biarlah.... Mungkin dari dia aku bisa mendapat informasi tentang Rachel.
“Oh, novel tentang apa, sih? Kayaknya seru banget....”
“Ini? Novel roman biasa, kok.... Ceritanya bagus, lho....”
“Wah... Kak Shinta suka baca novel roman?”
“Ya, suka banget!”
“Wah... wah.... Kebetulan saya juga suka baca novel roman, lho....”
Aku sedikit berbohong. Sebenarnya aku tidak benar-benar suka novel roman, sih.... Aku cuma pernah beberapa kali membaca novel roman karena ibuku mengoleksi banyak novel begituan. Kadang kalau sedang menganggur, aku baca novel koleksi ibuku.
“Andry udah baca novel apa aja?”
Shoot! Dia bertanya seperti itu?
“Banyak! Saya pernah baca... Layla Majnun. Oh... terus Sam Pek Eng Tay. Yang paling tebel... oh, itu, tuh... Gone With The Wind.”
Dari novel yang kusebutkan tadi, sebenarnya aku hanya pernah membaca Layla Majnun. Aku tahu sisanya karena dulu pernah membantu ibuku membereskan sebagian koleksinya.
“Wah.... Novel-novel yang keren, ya....”
“Kalo Kak Shinta, pernah baca apa aja? Yang paling disukai, yang mana?”
Oke, langkah pertama, ice breaking dengan cara sinkronisasi kesukaan, sepertinya sukses besar! Terbukti! Shinta mengobrol panjang lebar tentang novel kesukaannya. Dia senang dan sangat antusias. Seperti yang sering kuamati, orang memang suka menceritakan kesukaannya sendiri. Juga, biasanya orang akan senang dengan orang yang punya kesukaan yang sama dengan dirinya sendiri. Yah... aku ikuti saja. Nanti aku bisa dengan mudah mengorek informasi tentang Rachel darinya.
“Oh, ya.... Kapan-kapan kita tukeran novel, yuk....”
With pleasure.... Tapi, novel yang saya baca itu punya ibu saya. Adanya di Palu sana....”
“Yah... sayang....”
“Oh, ya... Kak Rachel di mana? Biasanya selalu samaan, kan?”
“Kalo Rachel, sih.... Dia masih kuliah.”
“Oh... tapi, saya penasaran juga, nih.... Kak Shinta bisa betah temenan ama Kak Rachel yang pendiam gitu, ya....”
“Yah... soalnya cuma Rachel yang mau denger ocehan saya. Teehehe.... Soalnya saya terlalu berisik, sih.... Yang lain pada kabur, deh....”
“Wah... berarti Kak Shinta bisa, dong....”
“Eh? Bisa apa?”
“Bisa jadi calon istri saya! Soalnya saya selalu siap dengar obrolan Kak Shinta kapanpun, dimanapun. Lagian saya suka sesuatu yang rame dan seru!”
“Teehehehehehe.... Masa, sih.... Nggak gitu, ah....”
Wajahnya memerah. Dia jadi terlihat lebih manis. Aku ingin menanyakan apakah Rachel suka seseorang atau tidak. Tapi, kalau kutanyakan secara langsung, dia bisa berpikir yang aneh tentang aku. Lebih baik pakai cara yang tidak langsung saja, deh.... Kalau untuk orang seperti Kak Shinta, mungkin tidak masalah.
“Oh, ya... kalo cewek kayak Kak Shinta... pastilah udah ada cowoknya. Iya, kan?”
Shinta menggeleng kepala. “Eh... nggak, kok.... Cewek aneh, berisik, dan nggak menarik kayak saya, nggak akan ada yang mau. Lagian... standar saya ketinggian, sih....”
Waw... mengejutkan! Ternyata jomblo! Jangan-jangan pacarnya itu... Rachel, ya? Tapi, tidak mungkin, deh....
“Kalo menurut saya... Kak Shinta menarik sekali, kok.... Seenggaknya dibandingin Kak Rachel....”
“Teehehehe.... Masa, sih? Nggak juga, kok.... Biar dingin gitu, Rachel banyak peminatnya, kok.... Sayangnya Rachel yang nggak minat siapa-siapa.”
Bagus! Secara tidak langsung dia sudah mengatakan apa yang ingin aku tahu.
“Masa, sih? Saya pikir agak aneh, deh.... Jadi, Kak Rachel juga jomblo?”
Shinta tertawa kecil. “Yah... gitulah.... Sayang banget, kan?”
Sebenarnya yang lebih sayang adalah Shinta, sih.... Tapi, biarlah....
“Hm... mungkin Rachel masih terikat ama temen masa kecilnya itu, ya....”
Teman masa kecil?
“Waktu itu pernah saya ceritain dikit, kan.... Itu, lho... yang ngasih dia bando biru yang selalu dipake itu.”
Bando biru? Entah kenapa aku ada sedikit ingatan tentang bando biru itu. Apakah teman masa kecil Rachel itu adalah aku? Lalu, apakah aku yang memberikan bando itu? Kakak yang ada di penggalan ingatanku, siapa?
“Bando biru itu, ya....”
“Ya, itu dari temannya.”
“Kak Shinta tau sesuatu tentang temennya itu?”
“Nggak.... Rachel gak banyak cerita tentang itu. Satu hal yang saya pikir, kayaknya Rachel sempet naksir ama temennya itu. Buktinya bando itu masih dipake sampe sekarang. Yah... walau ada sedihnya juga, sih....”
“Sedih?”
“Oh... itu tentang saat perpisahan. Di saat terakhir pertemuan itu, temennya ngamuk-ngamuk dan nampar Rachel sampe dia jatuh. Sampe sekarang Rachel nggak tau alasan temennya kalap.”
“Nampar sampe jatuh? Berarti keras banget, dong....”
“Ya, memang.... Kata-kata yang selalu Rachel ingat adalah, ‘Kamu gak akan pernah tau masalahku! Gara-gara aku, Kak Emi....’. Begitu....”
Kak Emi? Siapa itu? Kalimatnya terputus begitu saja?
“Setelah kejadian itu, Rachel gak pernah ketemu lagi ama temennya itu.”
“Kak Shinta tau nama temennya itu?”
“Nggak. Rachel gak pernah bilang namanya. Kalo aku tanya dia selalu jawab, ‘temenku udah mati dengan ngelupain aku, jadi aku juga gak wajib untuk ingat namanya.’”
Apa-apaan dia? Sampai sebegitunya....
“Heh... saya jadi cerita banyak tentang Rachel! Gawat, nih....”
“Nggak apa-apa, kok.... Saya pikir ada bagusnya juga saya tau tentang Kak Rachel. Yah... aku ingin kenal dia lebih banyak.”
Huehehehe…. Bagus, dong…. Saya seneng banget kalo Andry bisa temenan akrab ama Rachel. Soalnya dia selalu sendirian, kan…. Jadi, kasihan dia….”
Hoi… hoi…. Tanpa dibilang juga aku pasti akan berteman baik dengan Rachel.
Oke… aku jadi tahu hal-hal lain yang tidak aku ketahui. Tentang Kak Emi, siapa dia? Apakah dia adalah kakak yang ada di penggalan ingatanku? Benarkah? Kalau benar, berarti….
“Oh, ya…. Ada hal lain yang buat saya yakin Rachel masih suka temen masa kecilnya itu.”
“Eh? Ada yang lain?”
“Ay… ya… ya…. Dia pernah cerita tentang cemara. Saya gak tau detilnya, sih…. Tapi katanya di bawah cemara itu mereka pernah buat janji. Entah janji apa, ya….”
Cemara? Janji?

“Kak, liat, tuh! Tempatnya bagus, kan….”
“Kamu suka banget tempat ini. Terus di sini mau ngapain?”
“Mau tanem sesuatu. Mungkin besok….”
“Tanam? Pohon?”
“Pokoknya sesuatu yang bakal nyimpen semua kenangan sampe hari akhir nanti.”
“Wah…. Tapi, yakin kamu nggak akan lupa?”
“Nggak, dong…. Ada kode rahasianya. Inget, Kak… Macan Rajjei plus 5 dan min 7.’

Eh? Apa itu? Macan Rajjei plus 5 dan min 7? Tunggu…. Itu… sesuatu yang pernah dikatakan Mbak Rizka! Macan Rajjei plus 5 dan min 7?
“Kenapa?”
“Ah… menurut Kak Shinta, plus 5 dan min 7 itu… apa, ya?” Agak penasaran aja, nih….”
“He… kayak koordinat, ya….”
Koordinat? Ya, benar! Itu koordinat! Tapi, koordinat di mana. Lalu apa itu Macan Rajjei?
“Terus, Kak Shinta tau tentang Macan Rajjei?”
“Macan… apa? Nama jenis macan langka, ya?”
Ah… forget it. Shinta tidak mungkin tahu tentang itu. Soalnya… dia tidak ada hubungannya dengan ini, kan….
“Ah… ya… nggak apa-apa. Entah kenapa saya berpikir tentang itu.”
Aku tertawa-tawa. Tertawa....
Aku menghela napas panjang. Bagaimana, ya.... Aku harus mencari petunjuk ke mana lagi? Ini... baru kasus....

1 komentar:

  1. semangat om. ikutan NaNoWriMo juga enggak? yah memang mendesak banget waktunya,,tapi siapa tau kekejar. hehehe mas ini kayanya otaku yah, banyak banget istilah jepangnya.
    kalau tidak sibuk kunjungi novel alay saya juga ya... wkwkwkwk

    BalasHapus